Layar tangkap video Negara Rakyat Nusantara yang kembali ramai beberapa hari ini. Video tersebut merupakan video tahun 2015 yang kembali muncul. (Ist)
Layar tangkap video Negara Rakyat Nusantara yang kembali ramai beberapa hari ini. Video tersebut merupakan video tahun 2015 yang kembali muncul. (Ist)

Video berdurasi sekitar 7 menit terkait deklarasi Negara Rakyat Nusantara di platform YouTube, kembali meramaikan masyarakat Indonesia. Pasalnya, secara tegas Negara Rakyat Nusantara meminta negara Indonesia untuk bubar dikarenakan sudah terlalu membusuk.

Pernyataan itu dibacakan Yudi Syamhudi Suyudi yang mendaku sebagai presiden dalam deklarasi Negara Rakyat Nusantara. "Kondisi NKRI sudah membusuk, maka dengan kondisi itu mau tak mau dengan pikiran yang jernih dan hati yang besar kita harus merelakan membubarkan NKRI," ucapnya.

Terdapat 10 maklumat yang dibacakan oleh Negara Rakyat Nusantara terkait keberadaannya yang disebut Yudi telah dibubarkan oleh Indonesia. Seperti yang sedang ramai kembali beredar diberbagai platform medsos beberapa hari sampai saat ini.

Munculnya Negara Rakyat Nusantara kembali dibicarakan setelah sebelumnya publik banyak membincangkan Kerajaan Agung Sejagat di Jawa Tengah dan Sunda Empire di Bandung Jawa Barat. Padahal sebelum viral, Negara Rakyat Nusantara lebih dulu muncul jika dilihat dari jejak digitalnya.

Negara Rakyat Nusantara telah meramaikan Indonesia sejak tahun 2015 lalu. Saat itu, Yudi secara terbuka membuat surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mundur dan NKRI yang sudah tak bisa dipertahankan lagi atau segera untuk dibubarkan.

Munculnya "kerajaan-kerajaan" di awal 2020 ini pun memunculkan tanda tanya besar. Banyak yang menduga ada kesengajaan dari pengunggah video-video Negara Rakyat Nusantara. 

"Kurang kerjaan yg posting...Postingan diyutub th 2015 di upload lg," ucap akun Kim So'Cute.
Akun Tubagus Ndunx juga menyampaikan pendapat panjangnya atas mulai kembalinya kerajaan-kerajaan yang oleh banyak pihak disebut 'Halu' ini.

"Terpecah/ingin memecah NKRI? muncul kerajaan, atau negara di dalam negara, kacaunya negara atau sengaja dikacaukan. BUKANLAH tanpa sebab dan sebab-sebab inilah yg dimanfaatkan oleh musuh untuk memecah keutuhan NKRI WASPADALAH NKRI. Dengan demikian retanlah pertahan NKRI, ini adalah tehnik/strategi asing"yg ingin berkuasa di negri kita. Kemungkinan-kemungkinan seperti ini jangnlah kita kesampingkan mengingat banyaknya negara yg bernafsu menguasai ngri kita yg kaya akan sumber daya alamnya. NATUNA adalah salah satu contoh nyata yg belakangan diklaim oleh cina sebagai bagian dari daerahnya. BERSATULAH NKRI JANGAN MUDAH DI ADU DOMBA karna akhir"ini terlihat jelas ada usaha"untuk mengadu domba kita dimana ada celah perbedaan disanalah mereka masuk. Lewat agama, lewat pilpres berhati"lah sodaraku BERSATULAH hentikan perpecahan kita ini 1, 1nusa 1bangsa 1bahasa kita INDONESIA," ucapnya.

Warganet lainnya di berbagai medsos menyampaikan, dimunculkannya Negara Rakyat Nusantara sebagai pengalihan isu yang kini ramai di Indonesia. Seperti kasus OTT KPK terhadap Komisioner KPU, Jiwasraya, Asabri, serta berbagai kenaikan tarif BPJS Kesehatan, cukai tembakau, jalan tol, hingga rencana penerapan harga pasar gas elpiji 3 kg.

"JIWASRAYA FOKUS JIWASRAYA ... KORUPSI," ujar akun Herianto Nurdin yang disusul dengan pernyataan Gendis Dwi Madjid, "Awas.....kasus...KPU tenggelam.....".

Akun Inggrid Cataleya juga mengingatkan masyarakat dengan ramainya lagi berbagai pihak yang mengaku raja, ratu yang memiliki kerajaan saat ini. 

"Jangan sampe isu jiwasraya tenggelam karna dagelan belakangan ini. Masih banyak lagi loh...Halo Rakyat. Stop ngurus sinetron. Fokus ke yg lain," tulisnya.

Akun Prabu Siliwangi memberikan pernyataan lain dibanding ramainya warganet lainnya menyikapi Negara Rakyat Nusantara yang dari jejak digitalnya juga sempat di tahun 2015 lalu mengadakan Komunike I di Den Haag, Belanda dengan melibatkan NGRWP-OPM (National Government of Republic of West Papua-Organisasi Papua Merdeka), RMS-FKM (Republik Maluku Selatan-Front Kedaulatan Maluku), GBM (Gerakan Batak Merdeka), seperti dilansir oleh www.michr.net.

"Mungkin itu sekelompok warga yg sudah muak dengan keadilan yg ada di Indonesia yg hukum nya tumpul keatas dan tajam kebawah.. tp ya tetap saja salah kalau menunjukkan rasa kecewanya dg cara mau membentuk sebuah negara..Orang seperti ini jangan dibantai.. tp di perhatikan dibina,, dan seharusnya pemimpin NKRI bisa berfikir bijaksana," ujarnya.