Petani Kota Batu dan Banyuwangi Mulai Terapkan Sistem Pertanian Sitara untuk Jeruk, Hasilnya 4 Kali Lipat

Wisatawan saat memetik jeruk di Balijestro. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Wisatawan saat memetik jeruk di Balijestro. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

BANYUWANGITIMES, BATU – Kota Batu selain dikenal dengan buah apelnya, juga buah jeruknya. 

Namun lantaran semakin lahan pertanian kian berkurang, produktivitasnya pun semakin menyusut.

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kota Batu mengajak petani menggunakan sitem tanam pertanian tanam rapat (Sitara). 

Keunggulannya menggunakan sitara ini adalah produksi pertanian mampu meningkat.

Peningkatan itu bisa hingga empat kali lipat hasilnya. 

“Semakin menyusutnya lahan pertanian di Kota Batu karena alih fungsi lahan, membuat petani harus cerdik,” ungkap Peneliti Ekofisiologi Balitjestro, Sutopo.

Sistem ini harus dibudayakan untuk meningkatkan produksi buah-buahan, khususnya buah jeruk dan buah sub tropika penting dilakukan oleh para petani. 

Sistem ini juga sebagai upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi jeruk.

Misalnya, untuk 1 hektar lahan dengan sistem konvensional mampu ditanam 400-500 pohon jeruk. Sedangkan dengan sistem Sitara mampu menaman 1200- 1600 pohon per hektar.

“Dengan demikian hasilnya bisa sampai 4 kali lipat. Untuk saat ini yang mulai menerapkan di Kota Batu dan Banyuwangi,” imbuhnya. 

Ia menambahkan semua petani bisa menerapkan sistem ini namun harus melakukan perawatan yang bagus, mulai dari pola tanam, melakukan teknologi plengkungan, pemangkasan akar, hingga pemberian pupuk sesuai takaran.

“Keunggulannya bukan hanya hasilnya tapi juga panennya lebi cepat. Karena itu kami ingin petani mulai cerdik dalam mengelola perkebunannya,” tutup Sutopo. 

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Batu TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top