Bikin Kangen, Beginilah Suasana Lebaran di Indonesia Dulu

Suasana lebaran tempo dulu. (Foto istimewa)
Suasana lebaran tempo dulu. (Foto istimewa)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Momen Lebaran selalu identik dengan berbagai hal yang menyenangkan. Ada banyak tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. 

Beragam kegiatan dan sajian semakin mendukung suasana dalam momen ini. 

Namun, ada perbedaan antara lebaran zaman dulu dengan lebaran zaman sekarang.

Berikut ini beberapa momen yang memperlihatkan suasana lebaran di Indonesia di zaman dulu.

1. Salat Id

Merayakan lebaran memang tidak lengkap apabila kita tidak menjalankan salat Id di pagi hari. 

Tidak terkecuali pada tahun 1942 lalu. 

Walaupun belum merdeka tetapi situasi yang diperlihatkan sama seperti yang terjadi sekarang ini.

Pada zaman itu penduduk di Indonesia menyelenggarakan salat Id tidak hanya di masjid-masjid besar saja, tetapi juga di lapangan yang luas. 

Walaupun saat itu kondisi di Indonesia terbilang masih mencekam karena belum terbebas penuh dari penjajah, tetapi penduduk Indonesia begitu antusias menyambut Hari Raya Idul Fitri.

2. Lagu Lebaran

Saat perayaan lebaran, tidak hanya tradisi unik saja yang memeriahkan idul fitri, namun juga ada lagu-lagu khas yang biasanya menggema pada momen-momen tersebut. Salah satunya lagu berjudul Hari Lebaran.

Rata-rata penyanyi di Indonesia pasti pernah menyanyikan lagu ini. 

Penciptanya di balik lagu legendaris ini adalah maestro musik Indonesia Ismail Marzuki. 

Lagu ini sudah diperdengarkan sejak tahun 1950-an.

Dan karena lagu ciptaan Ismail Marzuki ini pula kalimat Minal Aidin Wal Faizin pun populer hingga saat ini.

3. Lebaran di Desa

Walaupun masih minim fasilitas dan teknologi, penduduk desa tidak kehabisan ide untuk menciptakan ritual-ritual unik yang bisa dilakukan untuk menyambut lebaran. Salah satunya pawai obor.

Dari dulu hingga sekarang, rupanya pawai obor kerap dilakukan penduduk desa. 

Walaupun hanya bermodalkan obor yang terbuat dari batang bambu dan pada saat itu juga kondisi di sekitar gelap karena masih minim penerangan, tidak mengurangi antusias mereka untuk berkeliling kampung.

Hingga saat ini, tidak sedikit masyarakat yang melakukan ritual obor. 

Hanya saja, kini mereka tidak hanya menggunakan obor tetapi juga kendaraan yang dihias semenarik mungkin sesuai dengan tema lebaran.

4. Lebaran di Kota

Di tahun 1950-an, situasi kota Jakarta begitu ramai oleh penduduk yang beramai-ramai pergi ke pasar untuk membeli berbagai keperluan untuk hari lebaran. 

Selain itu, juga banyak kendaraan jadul yang memadatkan kondisi jalan raya.

5. Soekarno Berlebaran

Sejak zaman dahulu, rupanya pemimpin negara kerap melaksanakan salat Idul Fitri bersama masyarakat luas. Tidak terkecuali Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno.

Dengan setelan jasnya dan peci yang menjadi ciri khasnya, Presiden Soekarno rutin melakukan salat Ied setiap tahunnya di lapangan Banteng. 

Ia pun berada di shaf terdepan untuk melaksanakan salat idul Fitri berjamaah.

6. Acara TV

Zaman dulu stasiun televisi yang dimiliki Indonesia hanya TVRI. Karena menjadi satu-satunya tontonan masyarakat di eranya, dalam perayaan lebaran, stasiun TV tertua ini pun menampilkan acara menghibur sekaligus mendidik bertajuk Operet Papiko setiap tahunnya.

Artis-artis yang mengisi acara ini terdiri dari artis-artis papan atas, seperti Titiek Puspa, Vina Panduwinata, Elvy Sukaesih, dan masih banyak lagi.

7. Iklan

Tidak hanya acara televisi yang bernuansa Ramadan atau lebaran, beberapa iklan produk di televisi pun juga ikut memunculkan iklan yang bertemakan Ramadan ataupun lebaran.

Walaupun tujuannya untuk menarik para penonton untuk membeli produk-produknya, tapi iklan-iklan tersebut sarat akan ilmu yang bisa jadi pelajaran untuk penonton yang melihatnya.

8. Mudik

Sekarang ini masyarakat telah dipermudah untuk melakukan kegiatan mudik. 

Apalagi jika daerah yang dituju di kawasan pulau Jawa. Masyarakatnya bisa dengan cepat sampai tujuan dengan melintasi Tol Cipali.

Seperti yang kita tahu, Tol Cipali atau Tol Cikopo Palimanan merupakan sebuah tol yang terbentang dengan panjang 116 km yang menghubungkan daerah Cikopo, Purwakarta, dan Palimanan.

Sebelum ada Tol Cipali seperti sekarang ini, masyarakat khususnya di tahun 1955 harus merasakan kemacetan panjang di Jalan Pantura, Cirebon. 

Untuk mengurangi kemacetan, aparat keamanan pun membatasi kuantitas kendaraan dan hanya kendaraan pengangkut tertentu yang diperbolehkan lewat jalan tersebut.

9. Kue Lebaran

Sekarang ini memang banyak kue dalam kemasan kaleng atau kue homemade lainnya. Namun, masyarakat Indonesia zaman dulu tidak mengenal kue-kue seperti itu. 

Mereka lebih banyak menyuguhkan kue-kue tradisional, seperti kembang goyang, semprong, rengginang, dan masih banyak lagi.

10. Sungkeman

Zaman dulu, setelah salat Id, masyarakat akan berkumpul di rumah seseorang yang dituakan dan mereka akan melakukan tradisi sungkeman.

Setelah itu kebanyakan anak-anak kecil akan berkumpul di tanah lapang untuk bermain bersama-sama.

Berbeda dengan sekarang, kemungkinan masyarakat akan lebih memilih mengucapkan selamat lebaran via sosmed dan saat berkumpul bersama saudara beberapa orang biasanya tetap sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top