Tinggalkan VPN Sekarang Juga, Kominfo Telah Membuka Akses Media Sosial

Foto istimewa: Badan Siber dan Sandi Negara
Foto istimewa: Badan Siber dan Sandi Negara

BANYUWANGITIMES, MALANG – Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) telah  membuka kembali akses media sosial, Sabtu (25/5).

Sebelumnya ada pembatasan akses media sosial untuk membendung persebaran hoax pasca kerusuhan 22 Mei. 

Sebelumnya, Kominfo juga telah mengimbau agar masyarakat tak sebar konten aksi kekerasan dan ujaran kebencian melalui Siaran Pers No. 105/HM/KOMINFO/05/2019.

Seperti yang dikatakan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI beberapa waktu yang lalu melalui akun Twitternya, pembatasan medsos oleh @kemkominfo ini bersifat sementara, untuk meminimalisir penyebaran konten negatif ataupun provokasi, agar situasi menjadi lebih kondusif.

Masyarakat pun menyiasatinya dengan menggunakan Virtual Private Network (VPN) untuk mengakali pembatasan akses Whatsapp (WA), Facebook (FB), dan Instagram (IG).

Akan tetapi, penggunakan sembarang VPN dapat memberikan resiko yang lebih besar bagi keamanan data pribadi. 

Dengan VPN, berarti mempercayakan jalur koneksi & data pribadi melalui server milik penyedia jasa VPN.

BSSN RI melalui akun Twitternya pun memperingatkan hal ini.

"Waspada terhadap penggunaan sembarang VPN, prioritaskan keamanan data pribadi kita!" tulisnya.

Dijelaskannya, VPN adalah suatu teknik untuk menghubungkan suatu jaringan dengan jaringan lain secara privat melalui jaringan publik (internet).

Nah, penggunaan VPN ini bukanlah tanpa risiko. Penggunaan sembarang layanan VPN (reputasi tidak terverifikasi) mengakibatkan data-data penting milik pribadi dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pihak yang tidak bertanggung jawab bisa mengetahui aktivitas media sosial, kecenderungan politik, riwayat transaksi e-commerce, dan lain-lain. Terlebih lagi jika VPN dipakai dalam jangka waktu yang lama.

Melansir dari studi VPNMentor, setidaknya ada 72% VPN gratis memasang tracker untuk melacak aktivitas pengguna dan kemungkinan dibagikan pada pihak ketiga.

Ketika data-data tersebut selesai dikumpulkan, data aktivitas diberikan ke pengiklan untuk memasang iklan tertarget kepada pengguna.

Password dan akun pribadi, serta data perbankan pun juga bisa dibobol, yakni mulai dari kartu kredit, login mobile banking, dan lain-lain. 

Hal paling mudah dicuri adalah data nasabah. Dengan demikian pelaku dapat menyalahgunakan sesuai kepentingannya.

Penggunaan VPN secara sembarangan juga berisiko terinfeksi malware. Setidaknya ada beberapa penyedia VPN gratis yang disinyalir terkontaminasi malware, seperti Betternet, SuperVPN, dan CrossVPN.

Malware yang menyusup pun umumnya berupa iklan. Hal ini memang menjadi salah satu jalan keluar dari penyedia VPN gratis, di mana dia bisa menghasilkan uang di samping lewat langganan.

Dikarenakan bahaya risiko malware ini, sangat disarankan untuk tidak menggunakan VPN saat mengakses layanan perbankan, seperti internet dan mobile banking.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top