Sentilan Tepat tentang Berdakwah, Ini Kata Cicit Ulama Besar Syekh Abdul Qodir Jailani

Cicit Syekh Abdul Qodir Al Jailani (tengah) memberikan tausiyah International Conference Maulid on Campus dengan tema Sufism for Peace. (Nana)
Cicit Syekh Abdul Qodir Al Jailani (tengah) memberikan tausiyah International Conference Maulid on Campus dengan tema Sufism for Peace. (Nana)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Kedatangan cicit ke-25 Sulthonul Auliya’ Syekh Abdul Qodir Al Jailani, seorang ulama fikih yang sangat dihormati kaum Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme, ke Kabupaten Malang menjadi berkah bagi tuan rumah acara serta masyarakat Kabupaten Malang. 

Itu karena, dari cicit Abdul Qodir Al Jailani bernama Syekh Prof Dr Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani Al Husaini yang merupakan tokoh sufi internasional, lahir berbagai mutiara kata menyejukkan bagi umat Islam yang ada di Kabupaten Malang. 

Dalam acara  International Conference Maulid on Campus dengan tema Sufism for Peace di Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, satu hal yang disampaikan Syekh Muhammad Fadhil, yaitu mengenai cara syiar ajaran Islam dengan cara berdakwah, cukup telak mengena persoalan-persoalan yang terjadi saat ini. Misalnya ada para pendakwah yang begitu berapi-api dan terkesan tidak memandang hak-hak kemanusiaan, tergelincir dalam berbagai perpecahan, dan akhirnya berurusan dengan persoalan hukum. 

"Umat Islam harus meniru apa yang sudah Nabi Muhammad contohkan dalam segala hal. Baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam cara-cara berdakwah," kata Syekh Muhammad Fadhil yang juga menyampaikan Nabi Muhammad diciptakan oleh Allah untuk mempersatukan umat, sebagai juru damai di muka bumi ini, sebagai kholifatul fil ardi yang sebenarnya.

Syekh Muhammad Fadhil melanjutkan, Nabi Muhammad sebagai teladan telah memberikan contoh dalam berdakwah. Yakni dengan cara-cara yang santun dan baik, tanpa adanya kalimat-kalimat yang kontradiktif dengan tujuan sejati dalam berdakwah.  "Berdakwahlah dengan cara Nabi Muhammad. Dengan kesantunan dan baik. Itulah yang diajarkan Nabi kepada umatnya," tegas Syekh Muhammad Fadhil. 

Tokoh Sufi Internasional dari Turki ini pun juga memberikan apresiasi mengenai masyarakat Islam di Indonesia yang sangat besar dan mayoritas tapi tetap mampu menjaga dan menumbuhkan toleransi yang tinggi.
Modal besar yang dimiliki Indonesia inilah yang juga membuat berbagai negara Islam dunia kerap mengapresiasi keberagaman masyarakatnya. Indonesia juga yang dijadikan tempat  belajar mengenai pola beragama yang saling bersandingan dengan masyarakat pemeluk agama yang berbeda dan minoritas. 

"Maka semua itu harus dijaga. Unira diharapkan menjadi duta dalam menjaga persatuan dan perdamaian umat islam di tanah air ini," imbuh Syekh Muhammad Fadhil.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unira Hasan Abadi mengatakan, Unira sebagai tuan rumah dalam acara International Conference Maulid on Campus itu mengusung tema "Sufism for Peace". Dia juva menyampaikan bahwa kehadiran Syekh Muhammad Fadhil  merupakan hal yang luar biasa.

"Kehadiran Syekh Muhammad Fadhil itu merupakan momentum langka. Beliau telah memberikan berkah pencerahan terhadap umat Islam. Khususnya seluruh civitas akademika Unira Malang," ujar Hasan yang menyampaikan juga, kehadiran Syekh Muhammad Fadhil yang juga pendiri dan penasihat utama Markaz Al-Jailani Internasional Turki merupakan hasil kerja sama dengan Jam'iyyaah Thoreqoh Almu'tabaroh An Nahdliyah (Jatman) Idaroh Wusto. 

Tausyiah Syekh Muhammad Fadhil yang memberikan kesejukan dalam beragama dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari layaknya para tokoh sufi saat memberikan pencerahan-pencerahan. Itu akan memberikan dampak positif  dan pencerahan terhadap pemahaman tentang Islam yang rahmah dan damai sehingga mampu memperkuat persatuan dan persaudaraan antarumat.

"Kehadiran beliau dan tokoh sufi lainnya akan membuat umat Islam semakin tercerahkan. Harapan kita, berbagai acara seperti ini bisa terus dilakukan," ujar Hasan yang juga menandatangani kerja sama dengan Jatman dalam pemberiam beasiswa serta penerbitan kitab-kitab sufi.  "Nantinya kita juga berencana membentuk Matan (Mahasiswa ahli thoreqoh annahdliyah) di Unira ini," pungkasnya. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top