Filosofi Kopi Dalam Festival 'Ngopi Sepuluh Ewu' di Desa Adat Using Kemiren Banyuwangi

Budayawan Aekanu Hariyono (atas) Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta istri didampingi Camat Glagah Astorik saat usai membuka Festival
Budayawan Aekanu Hariyono (atas) Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta istri didampingi Camat Glagah Astorik saat usai membuka Festival 'Ngopi Sepuluh Ewu', Sabtu (10/11/18) malam.

BANYUWANGITIMES – Festival 'Ngopi Sepuluh Ewu' yang digelar secara rutin setahun sekali oleh Pemkab Banyuwangi ternyata tidak sesederhana yang dilihat dan disaksikan orang. Karena ternyata, Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini mengandung filosofi yang padat tentang kopi itu sendiri.

Sebagaimana dikatakan budayawan Suku Using setempat 'Aekanu Hariyono', salah satu contohnya adalah proses menumbuk kopi merupakan lambang perjuangan  memecah pikiran dan menghaluskan hati serta perilaku.

"Meskipun sudah ditumbuk halus, masih harus disaring. Sehingga nikmatnya benar-benar memberikan kesan yang melekat sepanjang hayat. Artinya, meski apa yang harus kita ucapkan itu sudah ditimbang-timbang dampaknya, namun perlu kehati-hatian dalam menyampaikannya. Kapan saat yang tepat untuk disampaikan, serta kepada siapa kita menyampaikannya," papar pria yang juga seorang pensiunan Kepala Seksi Adat dan Cagar Budaya di Disbudpar Banyuwangi ini, Minggu (11/11/18).

Kombinasi kopi, cangkir dan lepek (piring kecil), ibarat persahabatan yang tidak bisa dipisahkan bagi masyarakat Using Desa Kemiren. Kopi berwarna hitam bisa juga diartikan sebagai persahabatan yang langgeng. Itulah sebabnya penduduk  yang berakar dari masyarakat agraris ini selalu menyuguhkan kopi hitam dalam cangkir yang beralaskan lepek kepada tamunya. Selain itu, lanjut Aekanu yang juga aktif sebagai senior tour guide berlisensi bahasa Inggris ini, kopi menjadi wajib sebagai sandingan atau suguhan sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur, baik dalam ritual individual maupun ritual komunal.

"Pola kesabaran pada moment ini juga ditampakkan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini,  tercermin saat menuangkan kopi dari cangkir  kedalam lepek. Jika dituang dengan gegabah dan melampaui takaran pasti akan tumpah. Kopi bubuk yang diseduh air panas dalam cangkir, akan terasa nikmat jika diminum saat hangat. Jika kopi dalam cangkir dituangkan dalam lepek akan segera turun temperaturnya serta terpisahkan antara air kopi dengan ampasnya. Ini lah cara menikmati kopi agar aroma dan citarasanya tetap terjaga," jlentreh Aekanu.

Sementara ngopi di warung kopi (warkop) atau coffe shop sudah menjadi hal yang jamak. Tetapi bagaimana rasanya jika minum kopi diteras rumah, bareng ribuan orang sekaligus ? Pastilah nuansanya bakal berbeda. Dan ini lah yang terjadi dalam acara 'Festival Ngopi Sepuluh Ewu' di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Sedikitnya 10 ribu cangkir kopi disediakan dan bisa disruput secara gratis ini menarik tourist mancanegara karena keunikan kultur yang khas wisata desa adat dengan kearifan lokalnya.

 "Dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu kemarin, beberapa wisman hadir. Diantaranya dari Polandia, Spanyol, Jerman dan Perancis ikut menikmati kopi dan sajian tari serta musik khas Using," lontar Aekanu.

Satu hal lagi, tambah Aekanu, di Desa Adat Kemiren yang penghuninya merupakan masyarakat Suku Using sekaligus penduduk asli Banyuwangi ini, punya tradisi minum kopi yang unik dan khas. 

Tradisi minum kopi tersebut adalah warisan leluhur nenek moyang Kemiren yang masih tetap dilestarikan. 

Bahkan warga Desa Adat Kemiren terus memegang teguh ujaran nenek moyangnya yang dalam bahasa Using berbunyi 'Welurine Mbah Buyut Kemiren ngombe kopi cangkir tutup'.

"Itu artinya, meminum kopi dengan cangkir yang ada tutupnya. Bahkan warga disini (Kemiren), terbiasa menerima tamu dengan menyuguhkan secangkir kopi dalam cangkir mungil lengkap dengan tatakan dan tutup cangkirnya. Dan yang patut dipahami, warga Using Kemiren ini memiliki filosofi atau tatanan tersendiri saat menyajikan kopi kepada tamunya, yakni gupuh, lungguh, suguh," pungkas budayawan yang aktif mempromosikan Banyuwangi ke kancah internasional dengan kolega maupun bersama para mahasiswa serta murid-muridnya ini.

Pewarta : Hakim Said
Editor : Heryanto
Publisher : sandi permana soebagio
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top