Konflik Horizontal Marak Dipicu Politikus Manfaatkan Masyarakat Berwawasan Dangkal

Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latief PhD (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)
Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latief PhD (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Konflik horizontal saat ini kerap terjadi di Indonesia. Konflik ini terjadi antar-individu atau kelompok organisasi yang memiliki kedudukan yang sama atau setara. Misalnya, antar-suporter sepak bola, antara tukang ojek konvensional dan non-konvensional, serta konflik antar-pendukung calon presiden menjelang pemilu.

Wakil Ketua MPR RI Dr Ahmad Basarah MH beberapa waktu lalu sempat menyinggung mengenai  konflik horizontal. Menurut dia, konflik horizontal sudah pernah terjadi di masa Belanda dulu. Dilakukan dengan cara politik pecah belah oleh Belanda. Dan saat ini, politik pecah belah sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan cara mengadu domba demi kepentingan politik.

"Hari ini politik adu domba tengah terjadi di tengah-tengah kita. Sarananya adalah pesawat gawai (handphone)," ujar Basarah beberapa waktu lalu saat ditemui di Universitas Brawijaya. "Bung Karno sebelum wafat telah mengingatkan kepada kita semua. Nanti suatu saat kalian akan menghadapi bangsamu sendiri," imbuhnya.

Lantas, mengapa konflik horizontal ini mudah terjadi di Indonesia? Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila  (BPIP) Yudi Latief PhD menyatakan, konflik-konflik itu mencerminkan aspek mind set atau wawasan yang cetek. "Dunianya hidup dalam kurung batoknya," ungkapnya  (7/11) dalam seminar nasional kebudayaan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB).

Yudi mengatakan,  masyarakat yang berwawasan cetek gampang dipecah belah. Hal inilah yang dilakukan oleh politikus-politikus masa kini. Mereka memanfaatkan masyarakat yang berwawasan dangkal.

Lebih lanjut, Yudi menyatakan bahwa orang-orang yang seperti ini bisa dikatakan cara pandangnya sempit.  Selain itu,  orang yang terlibat konflik horizontal biasanya bukan berasal dari kelompok agamis, melainkan dari kelompok-kelompok fundamentalis.

"Biasanya orang-orang itu mencerminkan lingkungan pergaulan yang tertutup. Sekali mereka diberi kesempatan untuk mengenali yang berbeda, biasanya mengalami moderasi," ungkap Yudi. (*)

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top