Dimintai Ganti Rugi Satu Triliun oleh Keluarga Pasien Meninggal Dunia, Rumah Sakit Ini Kebingungan Tentukan Langkah

Muhammad Soleh dan Rekan saat meregistrasi gugatan kliennya ke PN Probolinggo beberapa hari yang lalu (Agus Salam.Jatim TIMES)
Muhammad Soleh dan Rekan saat meregistrasi gugatan kliennya ke PN Probolinggo beberapa hari yang lalu (Agus Salam.Jatim TIMES)

BANYUWANGITIMES, PROBOLINGGO – RSUD dr Muhammad Saleh Kota probolinggo digugat Rp1 triliun oleh salah satu pasiennya, beberapa hari yang lalu. Namun, hingga kini pihak RSUD belum bisa mengambil langkah atas gugatan tersebut. Begitu pula dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) setempat, sebagai tergugat II.

RSUD yang dipimpin Rubiyanti tersebut belum bersikap, masih mempelajarinya. Sebab, gugatan melalui  Pengadilan Negeri (PN) Probolinggo, baru diterima pada Rabu (31/10) setelah diregister pada Selasa (30/10).  Gugatan tersebut  dilayangkan oleh Hanifah istri pasien Sudarman (58), warga jalan raya Lumbang, Dusun Krajan, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kebupaten Probolinggo.

Rubiyanti mengatakan masih mempelajari gugatan tersebut . “Sebentar dulu ya. Kami belum melangkah. Soalnya gugatannya masih kami pelajar,” ujar Rubiyati via Seluler.

Hal Senada juga diungkap bagian Komunikais Publik pada PBJS Kesehatan Pasuruan, Agung Kurniawan. Ia berterus terang telah menerima gugatan pasien RSUD dr M Saleh yang meninggal dalam perjalanan pulang hendak mengurus surat rujukan yang telah habis masa berlakunya, dari PN Probolinggo. “Sudah kami terima gugatannya. Kita masih melakukan koordinasi internal untuk mengambil sikap atas gugatan itu,” katanya singkat.

Seperti diberitakan Selasa (30/10) siang sebelumnya, Hanifah istri pasien Sudarman, 58 yang meninggal akibat ditolak saat hendak berobat di Poly Jantung  RSUD Moch Saleh, menggugat RSUD karena diduga telah melakukan tindakan melanggar hukum. Tak hanya Hanifah melalui kuasa hukumnya M Soleh, juga menggugat BPJS Kesehatan Cabang Kota probolinggo, dengan gugatan ganti rugi Rp 1 Triliun dan Rp 26 juta.

M. Sholeh mengatakan, pada Rabu (24/10) pagi suaminya kontrol penyakit jantung yang diderita  di Poli jantung. Petugas poly tidak mau melayani, dengan alasan surat rujukan masa berlakunya habis . Petugas meminta pasutri tersebut meminta surat rujukan pada faskes tingkat I (puskesmas) untuk bisa dilayani. Karena aturannya memang seperti itu, mereka kemudian meninggalkan Poli. 

Sayangnya ketika sampai di jalan raya Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, pasien yang mengendarai sepeda motornya bersama istrinya menghentikan laju kendaraannya dengan alasan tidak kuat meneruskan perjalanan. Warga yang menolong pasutri itu, kemudian membawanya ke RSUD Tongas. “Setelah dirawat, petugas RSUD Tongas, menyatakan kalau klien saya sudah meninggal,” jelas M Soleh.

Atas kejadian itu, keluarga menggugat RSUD dan BPJS. Sebagai kuasa hukumnya ditunjuklah M Soleh bersama rekan yang berkantor di Surabaya. Soleh menyayangkan tindakan pihak RSUD yang menolak pasien hanya karena persoalah surat rujukan yang mati. Padahal, aturannya rumah sakit tidak boleh menolak pasien, apapun alasannya. “Aturan BPJS rujukan berjenjang mempersulit pasien. Pasien itu bebas memilih Rumah sakit. Jangan diatur,” pungkasnya.

 

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : sandi permana soebagio
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top