Hanya Bermodal Komputer Murah, Bekas Tukang Tambal Ban Kalahkan Insinyur Oxford dan Doktor Asal Swedia

M. Arie Kurniawan (kiri) dan Arfi
M. Arie Kurniawan (kiri) dan Arfi'an Fuadi (foto: Wikipedia)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Percayakah Anda apabila di Indonesia terdapat sepasang kakak adik lulusan SMK yang mendesain komponen pesawat dan mengalahkan insinyur dari perguruan tinggi terkemuka dunia, yakni Oxford University, dan doktor asal Swedia? Percaya atau tidak, nyatanya memang benar-benar ada. Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan namanya, berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Siapakah mereka?

Dilansir dari News.okezone.com, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) memperingati Sumpah Pemuda dengan memberi penghargaan kepada 10 pemuda berprestasi. Pencarian kandidat sudah dicari sejak September lalu dibantu juri yang berkompeten di bidang masing-masing. Mereka adalah Triawan Munaf, Rhenald Kasali, Martin Hartono, dan Najwa Shihab.

Dari 90 kandidat, terpilih 10 nama yang dinilai memberi dampak paling besar kepada lingkungannya dan menghasilkan kreativitas terobosan dan solusi terbaik terhadap masalah bangsa ini. Salah satu dari 10 nama tersebut ialah Arfi’an Fuadi. Ia sebagai pendiri D’Tech – Engineering Innovation Center meraih penghargaan pada kategori teknologi.

Pada tahun 2014, Arfi’an dan saudaranya, Arie, mendesain jet engine bracket, salah satu komponen pengangkat mesin pesawat. Desain ini menjadikan Arfi’an dan Arie sebagai juara pertama Jet Engine Inspection Device dalam kompetisi desain tiga dimensi yang diadakan General Electric dan GrabCAD tahun lalu. Mereka mengalahkan para peserta dari 56 negara dengan total 700 desain.

Untuk diketahui, bracket jet tersebut lebih ringan 85 persen dari versi sebelumnya. Tepatnya dari 2 kilogram pada komponen asli menjadi hanya 327 gram.

Pencapaian sebesar itu datang dari kemauan Arfi’an untuk mengubah hidupnya dan keluarganya menjadi lebih baik lagi. Meski lulusan SMK, ia memiliki mimpi yang besar.

Dilansir dari Kompas.com, awalnya dia mencoba berwirausaha. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia berjualan susu keliling di Kota Semarang, menjaga tambal ban, menjaga bengkel, menjadi tukang cetak foto, hingga akhirnya bekerja sebagai penjaga malam di kantor pos.

Gaji pertamanya di kantor pos digunakannya untuk membeli komputer bekas senilai Rp 1,5 juta. Itu pun masih ditambah dari tabungan ayahnya dan kebaikan hati kerabatnya yang memberi hard disk bekas. Bermodalkan komputer bekas yang murah  itulah, Arfi’an mendirikan perusahaan desain D’tech Engineering pada 2009.

Dari situ ia mulai berkarya. Melalui situs freelance, ia menggarap berbagai proyek. Mulai dari mendesain gantungan kunci, kaus tangan, anting-anting, sasis mobil, engine bracket, hingga pesawat ringan. Proyeknya pun berasal dari dalam hingga luar negeri.

Proyek mereka tidak selalu mulus. Tahun 2012, Arfi’an dan Arie ditipu seseorang dari AS. Proyek mereka diterima, tetapi tidak dibayar. Meski begitu, ia kembali bekerja sama dengan warga AS untuk menggarap proyek coco pen, pulpen eksklusif yang dibuat dari aluminium solid dan batok kelapa. Produksinya dilakukan di Salatiga. Selain itu, mereka juga membuat puter pen, pulpen dari titanium yang dibuka dengan cara diputar. 

Dari hasil kerja keras mereka, Arfi’an dan Arie kini bisa membangun rumah untuk orang tuanya yang sebelumnya berdinding kayu dan atapnya bocor. Mereka juga membeli mobil dan lahan untuk membangun kantor D’Tech-Engineering.

"Awalnya, kami melakukan ini semua untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi kini uang bukan lagi yang utama. Saya tertantang mempelajari hal baru, membuat hal baru, dan mendapat informasi baru. Betapa banyak peluang dan kesempatan di pasar global yang bisa kita raih kalau mau berusaha," ungkap Arfi’an.

"Modal kami awalnya hanya keras kepala, mau belajar, dan anti mainstream," imbuh Arie. (*)

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top