Terkesan Keindahan Kawah Ijen, Pebalap Manca Juga Sebut Tour de Banyuwangi Paling Menantang

Para pebalap ITdBI 2018 saat beradu kecepatan.
Para pebalap ITdBI 2018 saat beradu kecepatan.

BANYUWANGITIMES – Gelaran International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) berakhir dengan diselesaikannya stage 4. Itu artinya seluruh lomba balap sepeda kategori 2.2 yang digagas Pemkab Banyuwangi tersebut telah tuntas.

Jalannya balapan yang digelar selama empat hari, 26-29 September 2018, ternyata menyisakan kesan mendalam bagi peserta. Salah satunya pebalap Team Sapura Cycling Malaysia Jesse Eward. “Ijen (ITdBI) salah satu balapan terberat. Di Eropa saja tak seperti ini,” ungkap pebalap berkewarganegaraan Australia ini.

Beratnya tanjakan di Ijen sudah dirasakan jelang titik finis 5-6 km. Saat itu Jesse berusaha untuk melaju di depan guna memperoleh yellow jersey sebagai kasta juara tertinggi dalam even ini. Sayang upayanya gagal dan dia hanya meraih runner up.

Jesse pun sangat penasaran untuk bisa menundukkan tanjakan Ijen di ketinggian 1.880 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tahun 2019, dia berjanji untuk bertarung kembali di ITdBI.

“Saya akan kembali lagi tahun depan. Ini adalah race terhebat yang saya ikuti, termasuk di seluruh dunia,” ujarnya.

Tidak cuma itu. Pebalap dengan nomor 115 ini juga punya ambisi lain sepulang mengikuti race ITdBI. Ambisi itu adalah mempromosikan keindahan Banyuwangi serta menantangnya lintasan balapan. "Saya akan promosikan kepada rekan-rekan maupun penduduk dunia. ITdBI adalah race yang hebat,” lontarnya.

Tahun ini, ITdBI telah memasuki gelaran ketujuh. Lintasan yang disuguhkan terdiri dari suasana perkotaan, pedesaan, pegunungan, perkebunan hingga persawahan sejauh 599 kilometer yang terbagi dalam 4 etape. Gunung Ijen dijadikan maskot balapan ini karena memiliki pesona alam yang indah dan api birunya yang langka. Di dunia hanya dua yang seperti itu. Salah satunya di Banyuwangi.

Pengakuan Jesse merupakan salah satu misi digelarnya ITdBI. Pemkab Banyuwangi selaku penyelenggara sengaja memperkenalkan keelokan alam Tanah Blambangan lewat sport tourism. Setelah tahun ketujuh, nama The Sunrise of Java kian dikenal dunia. Bahkan pebalap yang berlaga pun  tergiur untuk kembali lagi ke Banyuwangi. (*)

Pewarta : Hakim Said
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top