Journalis Camp 2018 Dinas Pendidikan dan MalangTimes (6)

Era Globalisasi, Generasi Milineal Jangan Salah Tafsir Makna Demokrasi

Danbrigrif Para Raider 18/SEY Jabung Malang, Letkol Inf. Bangkit Rahmat Tri Widodo, M.Si, MA saat menjadi pengisi acara Journalist Camp 2018 di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang, Jumat (7/9/2018) (Pipit Anggraeni)
Danbrigrif Para Raider 18/SEY Jabung Malang, Letkol Inf. Bangkit Rahmat Tri Widodo, M.Si, MA saat menjadi pengisi acara Journalist Camp 2018 di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang, Jumat (7/9/2018) (Pipit Anggraeni)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Danbrigrif Para Raider 18/SEY Jabung Malang, Letkol Inf. Bangkit Rahmat Tri Widodo, M.Si, MA mengingatkan para generasi milineal untuk tak salah tafsir tentang makna demokrasi. Karena ketika salah mengartikan, maka akan menimbulkan perpecahan.

"Indonesia ini salah mengartikan demokrasi. Demokrasi kita sekarang seperti hukum lalu lintas. Ketika motor dan mobil bertabrakan, yang salah ya tetap mobil karena mobil yang besar. Seperti itu jika diibaratkan demokrasi kita," katanya saat menjadi pengisi materi bertema Wawasan Kebangsaan dalam acara Journalist Camp 2018 di Aula Dinas Pendidikan Kota Malang, Jumat (7/9/2018).

Dia juga mengingatkan agar para generasi muda lebih kritis memaknai demokrasi dan tetap bebas secara aturan. Artinya, bebas dengan tidak merebut kebebasan orang lain. Selaku mengedepankan musyawarah dan mufakat meski memiliki perbedaan dalam berfikir.

Lebih jauh dia berpesan agar para generasi muda lebih giat berinovasi. Karena Indonesia memiliki sejuta potensi sumber daya alam untuk bisa dikembangkan di masa depan. Selama ini, potensi yang ada masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan banyak diambil alih oleh asing.

 

 

"Seperti pertambangan misalnya, yang saat ini masih banyak dikuasai asing. Maka sudah saatnya generasi penerus kita sekarang meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan merebut kembali sumber yang ada untuk dimanfaatkan. Jadi jangan malas berfikir, gunakan otak kita jangan janya hati dan perasaan saja," paparnya lagi.

Alumni SMAN 3 Malang itu juga menyampaikan, ada banyak potensi alam yang bisa dikembangkan untuk masa depan Indonesia. Salah satunya di bidang pertanian untuk mencapai ketahanan pangan secara nasional. Karena dengan penduduk yang besar, generasi muda Indonesia saat ini masih ogah untuk menjadi petani.

Padahal, lanjutnya, ketika anak muda Indonesia mau bertani dan mengembangkan teknologi yang ada, maka secara otomatis akan memperkuat sistem pertahanan pangan di negeri ini. Seperti Amerika, meski negara tersebut tak banyak mengkonsumsi beras, namun produksi beras per tahun selalu paling besar.

"Bibit mereka unggul dan sistem pola tanam mereka bagus. Itu yang harus kita tiru. Sampai kapan kita harus impor beras. Apa nggak takut kalian virus dimasukkan lewat beras yang diimpor dan itu membunuh generasi penerus kita?," imbuhnya.

Tak hanya itu, pria kelahiran Malang tahun 1976 itu juga berharap agar generasi muda tak mudah untuk diadu dan dipecah belah oleh bangsa asing. Karena sampai sekarang, perpecahan masih banyak didominasi oleh sistem adu domba.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top