Pawai TK Berkostum Terorisme Sempat Hebohkan Netizen, Mendikbud Turun Gunung

Mendikbud, Kapolresta dan Dandim 0820 saat bertemu dengan tokoh masyarakat dan agama serta pihak sekolah (Agus Salam/ JatimTIMES)
Mendikbud, Kapolresta dan Dandim 0820 saat bertemu dengan tokoh masyarakat dan agama serta pihak sekolah (Agus Salam/ JatimTIMES)

BANYUWANGITIMES, PROBOLINGGO – Kasus pawai peringatan HUT RI ke 73 yang berlangsung Sabtu (18/8) kemarin di Kota Probolinggo, terus bergulir. Kostum ala teroris yang dikenakan TK Kartika V-69, salah satu peserta pawai, menuai protes dan kecaman dari sejumlah kalangan dan netizen.

Karena itulah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajjir Effendy, hadir di Mapolres Probolinggo Kota, Minggu (19/8) sekitar pukul 14.30. Kedatangan mendikbud bersama Dirjen Guru Tenaga Kependidikan (GTT) untuk mengetahui, dan mendengar langsung seperti apa kasus yang sempat viral di beberapa media sosial (Medsos) tersebut.

Beretempat di ruang Rupatama Sanika Satyawada Polres Probolinggo Kota, Muhajjir Effend mendengar langsung pemaparan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal dan Dandim 0820 Letkol Kaveleri Depri Rio Saransi. Turut hadir di acara tersebut, Wali Kota Probolinggo yang diwakili Asisten Umum Budi Wirawan, Kesbangpolinmas dan Kepala Disdikpora Muhammad Sakur.

Hadir pula sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, Ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah dan NU, perwakilan kepala sekolah mulai SD sampai SMA sederajat, termasuk pula kepala TK beserta jajarannya dan  SKPD terkait lainnya. Mereka termasuk mendiknbud mendengarkan langsung paparan dari Kaploresta dan Dandim 0820.

Dalam paparannya, AKBP Alfian Nurrizal menyebut, foto dan video yang beredar di medsos dan masyarakat, hanya sepenggal dari video yang sebenarnya. Itupun yang direkam dan dipotret hanya bagian belakang atau terakhir barisan pawai.  Ia kemudian meminta operator untuk memutar video yang mempertontonkan kirab pawai 17 Agustus TK Kartika V-69. Video tersebut berdurasi sekitar 1,34 detik, sedang yang diupload hanya sekitar 0,14 detik.

Sambil menonoton video yang ditayangkan melalui slide Kapolresta menjelaskan, kalau pawai tersebut tidak seperti kabar yang beredar. Menurutnya, di bagian depan peserta pawai ada dua murid TK  membentangkan spanduk atau banner bertuliskan TK Kartika V-69  dan di bawahnya terpampang tema yang bertuliskan “Bersama Perjuangan Rosulullah Kita Tingkatkan Keimanan kepada Allah SWT”. Kedua anak TK tersebut berpakaian serba putih dan bersorban berkopyah putih.

Giliran barisa kedua ada 6 murid TK yang membawa bendera merah putih mengenakan gamis atau jubah seba putih, bersorban dan berkopyah putih (Haji). Selanjutnya, di urutan ketiga miniatur kakbah yang didorong orang tua murid yang berpakaian serba hitam, namun tidak mengenakan cadar dan di belakangnya anak TK berpakaian serba putih membawa nomor peserta karnaval .

Selanjutnya di barisan keempat dua anak TK laki-laki dan perempuan menaiki kereta yang ditarik oleh orang tua murid. Disebutkan dua anak tersebut mencerminkan Raja Salman bersama istrinya (Permaisuri) naik kereta kerajaannya. Diikuti oleh pasukan pengamanan kerajaan naik kuda dan unta yang ditarik orang tua siswa. Kemudian di bagian terakhir, barisan pasukan kerajaan laki-laki dan perempuan mengenakan jubah  (Gamis) hitam bercadar dan memanggul replika senjata AK 47 dari kayu.

Kapolresta mengatakan, setelah melihat tayangan videonya, kabar pawai TK Kartika tidak seheboh dengan apa yang beredar di masyarakat dan medsos. Namun, jika melihat foto dan sepenggal tayangan videonya, seakan TK di bawah naungan Kodim 0820 itu mempertontonkan sikap radikalisme teroris.

“Sudah kita lihat bersama. Dari tayangan itu, bapak bapak dan ibu-ibu bisa menilai sendiri. Pesan yang disampaikan TK Kartika. Mereka masih membawa bendera merah putih, miniatur kakbah dan Raja Salman,” tandasnya.

Hal senada juga dijelaskan Dandim 0820 Letkol Kaveleri Depri Rio Saransi. Pihaknya tidak sedikitpun menananamkan benih faham dan sikap radikalisme. Apa yang dilakukan kepala TK, untuk memanfaatkan properti yang menumpuk di gudang TK.

“Properti seperti unta, kuda dan replika senjata AK sudah ada di gudang. Properti itu, pernah dipakai dalam acara drum band sebelumnya. Kami tidak sebersitpun menanamkan radikalisme kepada anak-anak,” katanya singkat.

Sementara itu mendikbud mengatakan, kunjungannya ke Kota Probolinggo ingin mengetahui dan mendengar secara langsung dari pihak terkait tentang viralnya pawai TK tersebut. Namun, setelah menyaksikan rekaman videonya, Muhajir Effendy mengatakan pawai yang sebelumnya dikecam kalangan dan nitizen tidak ada yang luar biasa.

“Tidak ada yang kontroversial setelah melihat videoanya. Masyarakat juga tidak dapat dipersalahkan, karena mereka melihat tayangan sepenggal atau sepotong-potong,” tandasnya.

Meski demikian, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini berharap, khususnya para pendidik untuk lebih cermat dan teliti dalam mengikuti setiap kegiatan. Khusunya kegiatan yang lansung ditonton masyarakat seperti pawai HUT Kemerdekaan. Dan ia berharap, kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Itu langkah yang tepat, memanfaatkan properti yang ada untuk menghemat biaya. Tapi harus diperhatikan pula, ekses yang akan ditimbulkan terhadap kegiatan yang diadakan atau akan kita ikuti,” pungkasnya.

 

Pewarta : Agus Salam
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top