Harga Pakan Tinggi, Peternak Ayam Mengeluh

Sulikah saat menata telur hasil ternaknya. ( foto : Gusti Indah P/Jatim Times)
Sulikah saat menata telur hasil ternaknya. ( foto : Gusti Indah P/Jatim Times)

BANYUWANGITIMES, TULUNGAGUNG Tingginya harga pakan ayam di Tulungagung dikeluhkan peternak ayam petelur. Betapa tidak. Harga pakan ayam seperti jagung mencapai Rp 3.700 per kilogram, konsentrat Rp 353 ribu per sak, dan dedak Rp 2.600 per kilogram.

Tentu kondisi ini memberatkan pengusaha ayam petelur. Belum lagi suplemen makanan lainya yang dibutuhkan untuk perkembangan dan kesehatan ternak.

Salah satu yang mengeluhkan tingginya harga pakan adalah pengusaha ternak ayam petelur di Dusun Ngejring, Desa Pakisaji, Kecamatan Kalidawir, Sulikah (52). Kurang lebih  22 tahun menekuni usaha ternak ayam petelur, pengusaha yang memiliki 5 ribu ekor ayam ini merasa keberatan dengan tingginya harga pakan. “Harga pakan kian tinggi. Otomatis mengurangi keuntungan kita sebagai peternak,” ujar wanita itu.

Sulikah juga merasa kecewa lantaran tidak ada perhatian dari dinas peternakan terkait subsidi, khususnya harga pakan yang kurang stabil. Padahal, tingginya harga pakan berengaruh terhadap tingginya  harga telur. Saat ini harga telur dari pengusaha ayam  Rp 18.300. Naik dari harga sebelumnya Rp 17.000.

"Pakan ayam mahal tapi ternak harus tetap jalan. Untung rugi sudah biasa dialami karena faktor harga pakan yang tidak stabil dan harga telur juga tidak stabil di pasar,” kata Sulikah.

Tiap hari Sulikah, yang juga istri anggota DPRD Kabupaten Tulungagug itu, dengan dibantu pegawainya memberi makan ayam pagi dan sore. Setidaknya per bulan Sulikah harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 4 juta.

Tak hanya Sulikah. Takim -pengusaha ayam petelur lainnya- juga mengeluhkan kondisi serupa. Pengusaha dengan 3.500 ekor ayam itu mengeluhkan tidak adanya subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pembelian pakan. Padaha bantuan sekecil apa pun dari pemeintah cukup membantu keberlangsungan usahanya.

Meski demikian, dirinya beserta peternak ayam lainya masih bertahan di tengah kondisi yang sulit ini. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan puasa yang biasanya kebutuhan akan telur akan meningkat drastis. "Perhatian dari dinas terkait juga masih minim. Subsidi untuk pakan  ternak sudah tidak ada" kata Takim. (*)

Pewarta : Gusti Indah P
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top