Guide Lokal Kawah Ijen Mengeluh, Tidak Diberdayakan untuk Layani Wisatawan

Ketua HPKWI, Slamet (paling kiri), bersama temannya bertemu dengan Ketua DPRD Banyuwangi Made Cahyana Negara (paling kanan) (Foto : Muhammad Hujaini/BanyuwangiTIMES)
Ketua HPKWI, Slamet (paling kiri), bersama temannya bertemu dengan Ketua DPRD Banyuwangi Made Cahyana Negara (paling kanan) (Foto : Muhammad Hujaini/BanyuwangiTIMES)

BANYUWANGITIMES – Ketenaran kawah Gunung Ijen yang mendunia seharusnya memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

Namun hal itu masih belum dirasakan oleh warga lokal khususnya warga yang bekerja sebagai pemandu wisata (guide). Para guide lokal ini mengaku jarang dipakai untuk memandu tamu oleh pihak terkait.

Kondisi ini disampaikan Himpunan Pemandu Wisata Khusus Kawah Ijen (HPKWI) Ketua DPRD Banyuwangi Made Cahyana Negara.

Para perwakilan HPKWI menyebut, membludaknya wisatawan  yang datang ke kawah Ijen tidak serta merta membuat mereka bisa melakukan pekerjaannya sebagai pemandu wisata.

“Padahal kami sudah mengikuti anjuran Dinas Pariwisata untuk ikut pelatihan mulai dari guiding, SDM hingga pelatihan bahasa,” ujar Slamet, Ketua HPKWI Sabtu (31/3/18).

HPKWI sendiri mempunyai 104 anggota yang terdiri dari 49 anggota tetap dan sisanya masih dalam proses magang.

Untuk 49 anggota tetap seluruhnya sudah pernah melakukan pelatihan. Rata-rata tiap orang sudah mengikuti pelatihan hingga 6 kali. Namun pengelola Ijen dan Dinas Pariwisata mayoritas menggunakan guide dari luar.

Tidak hanya itu, para guide lokal yang tergabung dalam HPKWI juga sudah mendapatkan izin dari BKSDA pusat. Bahkan mereka juga harus membayar iuran kepada BKSDA selaku pengelola wisata Kawah Ijen sebesar Rp 50 ribu tiap bulannya.

“Hanya 25 persen turis yang datang ke Ijen menggunakan jasa kami,” ujar Sofyan, Sekretaris HPKWI.

Dijelaskannya, guide lokal lebih paham dengan medan dan kondisi alam di kawah Ijen. Sebab sebagian besar dari mereka merupakan mantan penambang belerang.

Sebagai contoh, Sofyan menyebutkan keluarnya gas beracun tidak bisa diprediksi dengan alat apapun namun Guide lokal bisa memprediksi keluarnya gas beracun dengan tanda-tanda alam yang muncul.   

Pihaknya menagih janji pihak Dinas Pariwisata  yang pernah menyampaikan akan menggunakan jasa HPKWI jika ada tamu. Sebab berdirinya HPKWI juga merupakan jawaban dari tantangan Dinas Pariwisata atas banyaknya jumlah wisatawan  yang datang ke Ijen. “Kami minta dibantu pihak terkait agar tamu bisa memakai guide lokal,” pintanya.

Sementara ini, Ketua DPRD Banyuwangi, Made Cahyana Negara menyatakan, seharusnya kemajuan wisata di Banyuwangi bisa dinikmati masyarakat lokal. Efek ekonominya harus dirasakan masyarakat lokal seperti jasa guide yang dilakukan warga lokal.

Menurutnya pemandu wisata di Ijen harus memahami beberapa hal mengenai keamanan dan kebersihan. “Mereka (guide lokal) punya skill lebih,” jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, harusnya membantu agar mereka bisa ikut menikmati efek ekonomi naiknya kunjungan wisatawan ke ijen.

Mengenai regulasi, pihaknya akan mengundang beberapa stake holder dan pemangku kepentingan wisata yang ada di Banyuwangi. Kalau memang tidak perlu regulasi, kata Dia, yang penting bisa berjalan.

“Yang pasti kami meminta pemerintah berperan, hadir melindungi masyarakat yang menjadi pemandu wisata ini untuk bisa menikmati efek ekonominya,” terangnya

Pewarta : Muhammad Hujaini
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top