Ini Jawaban Pemred Radar Malang ketika Dituduh Tulis Fitnah oleh Demokrat

Pemimpin Redaksi Radar Malang Abdul Muntholib (Humas Universitas Brawijaya)
Pemimpin Redaksi Radar Malang Abdul Muntholib (Humas Universitas Brawijaya)

BANYUWANGITIMES, MALANGHarian Radar Malang dituduh menulis berita fitnah oleh DPC Partai Demokrat Kabupaten dan Kota Malang. Itu karena media cetak lokal tersebut dianggap memberitakan hal-hal yang tidak berdasarkan data dan fakta.

Radar Malang menulis bahwa Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Malang Ghufron Marzuqi akan menggugat Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPC PKB Kota Malang, DPP PKB, dan Wali Kota Malang M. Anton.

Baca Juga : Demokrat Malang Tuduh Radar Malang Tulis Berita Fitnah

Pemberitaan yang dianggap menyebar kebohongan tersebut ada pada edisi Radar Malang Rabu (10/1/2018) berjudul Di-Del sebelum Tanding, Gunadi Cs Gugat PKB. Dalam berita itu tertulis bahwa Ghufron yang mendaftar di PKB dan gagal menjadi bakal menjadi calon wakil wali kota akan menggugat bersama calon-calon lainnya.

Selain dianggap fitnah, berita di Radar Malang juga dianggap tendensius dan punya maksud untuk mengadi domba antara Parta Demokrat dengan PKB. Termasuk juga mengadu domba antara Ghufron dengan Anton dan Syamsul Mahmud (pasangan Anton dalam pilwali).

Apalagi, terang Ghufron, dalam pemberitaan tersebut tidak ada konfirmasi terhadap dirinya. Termasuk tak adanya upaya wartawan Radar Malang untuk meminta keterangan dirinya mengenai rencana gugat-menggugat tersebut.

Benarkah pemberitaan Radar Malang mempunyai tendensius, fitnah, dan tak sesuai etika jurnalistik ketika menulis Ghufron? Berikut wawancara wartawan MalangTIMES (A), media online berjejaring terbesar di Indonesia dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) Radar Malang Abdul Muntholib (B).

Dalam wawancara dengan Muntholib, terbagi menjadi dua sesi. Interval waktu antara sesi telepon yang satu dengan sesi kedua sekitar 30 menit.

Sesi pertama

A : Assalammualaikum Pak, berita Radar Malang hari ini (edisi Rabu, 10/1/2018, berjudul Di-Del sebelum Tanding, Gunadi Cs Gugat PKB) tentang bacawawali yang akan menggugat. Ditulis ada empat orang yang akan menggugat. Salah satunya di berita dituliskan ada nama Ghufron Marzuqi.

B:  Ya ya.

A:  Menurut Pak Ghufron, dia  merasa bahwa berita yang menyatakan bahwa dirinya akan menggugat adalah fitnah. Dan Pak Ghufron juga mengatakan bahwa tidak ada wartawan Radar Malang yang menelepon atau menghubunginya. Apa benar itu?

B: Oh gitu, gitu ya.

A: Sebagai Pemred Radar Malang, bagaimana tanggapan Anda?

B: Saya minta ada klarifikasi dari beliau. Saya akan telepon beliaunya dulu.

A: Sebentar Pak, memangnya sebelum berita ini terbit apa wartawan Anda belum telepon Pak Ghufron?

B : Ya wartawan saya, wartawan saya. Saya tanya wartawan dulu. Prosesnya seperti apa.

A: Pak apa ada tendensi khusus kepada Pak Ghufron dalam pemberitaan ini?

B: Makanya saya tanyakan dulu kepada wartawan.

A: Apa berita ini tendensius atau gimana Pak?

B: Belum bisa jawab. Saya mau tanya dulu kepada wartawan dan akan minta klarifikasi dulu ke Pak Ghufron. Nanti telepon lagi ya.

A: Oke Pak. Tiga puluh menit lagi saya telepon jenengan ya Pak?

B: Inggih, inggih.

Setelah 30 menit kemudian, wartawan MalangTIMES kembali menghubungi Abdul Muntholib melalui telepon selulernya.

A: Pak, berita Radar Malang menyebut ada empat bacawawali yang akan menggungat. Salah satunya dituliskan ada nama Ghufron Marzuqi. Nah, berita ini dirasa oleh Ghufron tendensius dan fitnah. Karena waktu pencalonan nama Ghufron tidak disebut sama sekali. Nah pada saat gugat-menggugat baru disebut. Apakah memang ada tendesius?

B: Pak Ghufron sudah telepon-teleponan sama saya juga. Kalau soal tendensius itu biarlah pembaca yang menilai karena kami tidak bisa menilai itu. Pembaca mau (berasumsi) apapun bolehlah. Siapapun boleh menilailah. Produk jurnalistik itu adalah produk yang telanjang sehingga siapapun bisa menilai. Kalau misal, misalkan ada kekurangan dalam penulisan, itu kan kami memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun yang ingin untuk memberikan klarifikasi. Dan hak itu sudah kami berikan kepada Pak Ghufron. Intinya mereka (Pak Ghufron dan Demokrat) besok minta diklarifikasi. Intinya oke. Persoalan ini tendensius atau tidak, ya semuanya bisa menilai seperti itu. Satu orang menilai satu berita itu kan dari banyak sudut. Itu sudah biasa. Bisa nulis tentang si A, lho kenapa kok si A ditulis tapi si B kok enggak, demikian seterusnya. Tetapi sekali lagi itu tadi kami membiarkan pembaca menilai apa yang kami tulis.

A: Apa memang betul ya tidak ada konfimasi terlebih dahulu kepada Pak Ghufroni?

B: Jadi itu memang pertama tidak ada memang (konfirmasi). Kedua, sumber kami memang ada, sumbernya tertulisnya ada. Tapi tidak perlu saya sampaikan tentunya siapa sumbernya. dan itu via WA (Whatsapp) kepada kami. Sumbernya ada. Cuma itu tidak penting. Tidak perlu kami sampaikan. Besok ada klarifikasi, ya akan kami lakukan. Ya kira-kira itulah.

A: Inggih matur nuwun Pak

B: Inggih. (*)

 
Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top