Peselancar 14 Negara Ikuti Kompetisi Selancar Layang di Pulau Tabuhan Banyuwangi

Peselancar saat beraksi di pantai Pulau Tabuhan Layang di Pulau Tabuhan Wongsorejo Banyuwangi (Foto : Hakim Said/BanyuwangiTIMES)
Peselancar saat beraksi di pantai Pulau Tabuhan Layang di Pulau Tabuhan Wongsorejo Banyuwangi (Foto : Hakim Said/BanyuwangiTIMES)

BANYUWANGITIMES – Banyuwangi Kiteboarding and Wind Surfing International Competition yang digeber sejak Sabtu (26/8/17) di Pulau Tabuhan Banyuwangi diikuti sebanyak 30 peserta dari 14 negara. Mereka bersaing menampilkan atraksi seluncur angin terbaik di ajang sport tourism ini.

Pulau Tabuhan Banyuwangi benar-benar menjadi surga bagi para peselancar angin. Para atlet dari mancanegara terlihat sangat menikmati suasana pulau berpasir putih tersebut.

Hembusan angin yang kencang, ombak yang tidak terlalu besar, dipadu dengan keindahan pulau menjadi kenikmatan tersendiri bagi para peselancar.

Narapichit Pudla, salah satu peselancar asal Thailand merasa sangat senang bermain selancar angin di Pulau Tabuhan. Menurut dia, Pulau Tabuhan merupakan lokasi terbaik untuk bermain selancar angin di Indonesia.
 
"Disini kecepatan anginnya pas. Pulaunya sangat cantik. Ini merupakan lokasi yang paling bagus untuk bermain surfing di Indonesia," ucapnya. 

Pulau Tabuhan merupakan tempat ketiga di Indonesia yang pernah didatangi oleh Narapichit untuk bermain selancar angin di Indonesia, setelah Bali dan Pulau Bintan.

Narapichit adalah pemenang juara kedua kategori freestyle di kompetisi ini pada tahun 2015 lalu.

"Saya sudah dua kali mengikuti kompetisi di Pulau Tabuhan ini. Cuaca dan anginnya benar-benar mendukung, dan sangat menyenangkan," lontarnya lagi.

Pulau Tabuhan dikenal memiliki angin yang cocok untuk pelaksanaan selancar layang dan angin. Bahkan angin di Pulau Tabuhan memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh tempat lainnya.

Hari ini, Narapichit beratraksi freestyle. Dia beberapa kali bermanuver menampilkan aksi terbang di atas air lalu melandai kembali dengan gerakan-gerakan akrobatik.

Selain diikuti peserta pria, kompetisi ini diikuti peserta wanita. Salah satunya Madlen Ernest dari Austria. Madlen menjadi yang terbaik di kelas maraton. Di kelas marton, para peserta diadu menjadi yang tercepat  berseluncur mengitari Pulau Tabuhan.

"Saya beruntung, meskipun saya sudah berlatih sebelumnya. Anginnya sangat bagus, membantu saya menambah kecepatan sehingga bisa jadi pemenang," kata Madlen.

Pulau Tabuhan sendiri merupakan sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang masuk Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Hanya diperlukan waktu 20 menit untuk menuju ke Pulau Tabuhan dengan menggunakan perahu motor.

Pulau yang terletak di sisi Timur Kabupaten Banyuwangi ini menyimpan pesona yang indah. Pasir putih yang halus, air laut yang jernih dan biota laut yang menawan. Tak heran, banyak wisatawan yang pergi ke pulau ini untuk melakukan snorkeling dan diving.

Terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan sport tourism menjadi salah satu cara untuk mempromosikan pariwisata daerah.

“Sport tourism efektif untuk mendorong wisata. Jadi kita dapat dua manfaat, pertama kunjungan atlet dan wisatawan penggemar olahraga air. Kedua, promosi destinasinya yaitu Pulau Tabuhan,” ungkap Anas.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi mengatakan, kompetisi berlangsung selama dua hari, 26-27 Agustus. Ajang ini melombakan berbagai kelas yaitu kategori racing (maraton), trapezoid, speed trial, freestyle dan big jump exhibition dengan memperebutkan hadiah menarik total Rp105 juta. 

Pewarta : Hakim Said
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Banyuwangi TIMES
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top