Ziarah Wisata Sejarah Kabupaten Malang (2)

Menengok Situs Singosari, Mozaik Sejarah Berdirinya Kerajaan Singosari

Arca Dewi Parwatidi di halaman Candi Singosari sebagai bagian situs Singosari yang berserak di beberapa wilayah di Kabupaten Malang kini. (Istimewa)
Arca Dewi Parwatidi di halaman Candi Singosari sebagai bagian situs Singosari yang berserak di beberapa wilayah di Kabupaten Malang kini. (Istimewa)

BANYUWANGITIMES, MALANG – Peninggalan arkeologi di bekas Kerajaan Singosari terbilang tidak banyak. Namun topomini-nya tersebar dan berserak di berbagai tempat di Kabupaten Malang yang kini secara administratif berupa kecamatan dan desa.

Turyyan (Turen), Taloka (Talok), Karuman, Kabalon, Kutaraja, Tumapel, Panawijyan (Polowijen), Kagenengan (Genengan), Kebon Agung, Gunungrejo adalah topomini dari Kerajaan Singosari yang masih dipakai sampai kini yang berasal dari berbagai jejak sang pendiri Kerajaan Singosari dan keturunannya, baik berupa candi, artefak, prasasti maupun gelar kebangsawanannya. 

Di Turyyan (Turen), pendiri Kerajaan Singosari Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi atau lebih dikenal dengan nama masa kecilnya, Ken Arok, pernah berguru kepada Mpu Palot atau Pu Palyat, seorang pengamal ajaran Bhirawa Tantra. Di Kabalon, Arok pernah hampir terbunuh oleh penduduk setempat karena ulahnya. Kitab Pararaton dan Negarakrtagama menuturkan bahwa Arok muda yang merupakan putra Ken Endok, istri pertapa Gajapara yang berselingkuh dengan Bhatara Brahma dan dipungut oleh Lembong, dikenal sangat nakal.

Di Tumapel, yang dikuasai Tunggul Ametung, seorang awuku yang berada di bawah pemerintahan Maharaja Krtajaya, Arok menjadi raja dan memperistri Ken Dedes setelah membunuh Tunggul Ametung. Ken Dedes merupakan perempuan nareswari, yakni perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar.

"Pembunuhan Ametung membuat amarah Krtjaya. Perang Tumapel dan Kadhiri pecah tahun 1144 Saka atau 1222 Masehi di Ganter (nama desa didekat Pujon). Arok yang menang dan sejak itu Kadhiri disatukan dengan Tumapel di bawah kekuasaannya," kata Agus Sunyoto, pakar sejarah yang juga penulis Buku The Charm of Historical Tourism in Malang Regency, Minggu (06/08).

Arok yang bertahta dan mendirikan pusat kerajaan di Kutaraja hanya berkuasa selama lima tahun. Menurut Pararaton, Arok yang bergelar Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dibunuh seorang abdi dari Batil atas suruhan Anusapati yang merupakan anak Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Arok dicandikan di Kagenengan yang secara topomini berada di Kecamatan Pakisaji, yaitu salah satu desa sebelah timur Gunung Kawi.

Nama Singosari sendiri baru dipergunakan pada masa pemerintahan Wisynuwardhana sekitar tahun 1254. Wisynuwardhana merupakan anak Anusapati atau Anusanatha yang menggantikan Ken Arok berkuasa. Dalam perebutan kekuasaan, Ranggawuni atau Wisynuwardhana bersama Mahisa Campaka membuat perlawanan terhadap Tohjaya yang telah merebut tahta Anusapati dengan cara membunuhnya dengan keris Gandring. Pada masa Wisynuwardhana inilah, Tumapel dan Kadhiri kembali bersatu melalui perkawinannya dengan Waning Hyun dan melahirkan Kertanegara dan lainnya. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top