Rendra Kresna, Bupati yang Tak Pernah Ambil Jarak dengan 3 Juta Warganya

Bupati Malang Dr H Rendra Kresna tak segan berbaur dengan rakyatnya dalam sebuah kegiatan.
Bupati Malang Dr H Rendra Kresna tak segan berbaur dengan rakyatnya dalam sebuah kegiatan.

BANYUWANGITIMES, MALANG – Sejatinya pemimpin adalah pengabdian kepada rakyatnya. Begitulah salah satu kutipan (quote) populer dari Bupati Malang Dr H Rendra Kresna yang membuat warga Kabupaten Malang meresponsnya secara tulus dengan cara mencintainya.

Pola komunikasi pemimpin dan warganya yang menihilkan jarak sosial dalam berbagai kegiatan resmi maupun tidak menjadi pintu dari kutipan tersebut sehingga hidup dan nyata. "Tugas pemimpin itu mengabdi kepada masyarakatnya. Cara masuknya kepada masyarakat dengan menyetarakan fungsi sosial kita," kata Rendra Kresna, Senin (12/06).

?

Saat tidak ada jarak formal, pengabdian seorang pemimpin akan mengalir dan saling beriringan dengan masyarakatnya. Proses inilah yang akan menumbuhkan rasa cinta dan mencintai antara keduanya. "Saat ini terbentuk, berbagai impian dan harapan yang disampaikan lewat bahasa rakyat bisa diakomodasi dan dirumuskan menjadi program kerja pemerintahan," terang Rendra kepada Malang TIMES, media online berjejaring terbesar di Indonesia.

Bukan sekadar kutipan semata. Ejawantahnya telah dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Malang yang berjumlah sekitar tiga  juta jiwa.

Kepemimpinan Rendra yang identik dengan pengabdian ini telah terbukti lewat berbagai program kerja yang langsung menyentuh warganya. Berbagai problematika yang berdenyut dalam keseharian warganya disentuh dan dicarikan jalan keluarnya bersama-sama.

Bagi Rendra, seluruh pengabdiannya kepada masyarakat bisa tercapai dan berhasil apabila dilakukan bersama. Etos gotong-royong menjadi tumpuan program. Berbaur dalam denyut kegelisahan rakyat adalah pintu untuk membenahi segala hal berkaitan dengan solusi permasalahan tersebut.

"Kalau tidak seperti ini, tidak perlu pemimpin susah payah datang ke tengah masyarakat. Mendengar keluh kesahnya, berbicara bersama mencari solusinya. Tinggal duduk di belakang meja, buat program, selesai. Tapi Pemerintah Kabupaten Malang tidak seperti itu," kata Rendra dengan intonasi lembut kebapakan.

Kepemimpinan yang sejati juga wajib menaungi dan mengayomi para perangkat kerjanya atau bawahannya, selain masyarakat sebagai subjek pengabdian.

Rendra sebagai pemimpin, bahkan pernah dijuluki "singa dalam kumpulan para domba" oleh Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Abdul Malik. Julukan tersebut sebagai bentuk apresiasi para satuan kerja di bawahnya terhadap pengayoman serta sikap tegasnya terhadap para aparatur sipil negara (ASN).

"Beliau (Rendra) tegas dalam menerapkan disiplin kepada siapa pun. Sisi lain, memiliki jiwa mengayomi seorang bapak kepada anaknya," ucap  Abdul Malik.

Karakter Rendra sebagai pemimpin dengan falsafah pengabdiannya dibentuk sejak kecil dalam keluarganya di Pamekasan, Madura. Sikap egaliter, menghormati perbedaan, inklusif dalam menjalankan amanah rakyat, dan pekerja keras telah tertanam puluhan tahun dalam diri Rendra.

"Siapa pun kita, yang dilihat oleh Allah adalah perbuatannya, bukan jabatannya. Menjadi bupati adalah amanah rakyat dan wajibnya saya adalah mengembalikan amanah tersebut dengan kerja dalam konteks mengabdi kepada rakyat,"pungkas Rendra. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top