Banyuwangi Coffee Community Edukasi Masyarakat Tentang Kopi

Para aktivis Banyuwangi Coffee Community mengajari warga mengolah kopi dan menyajikannya dengan baik (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)
Para aktivis Banyuwangi Coffee Community mengajari warga mengolah kopi dan menyajikannya dengan baik (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)

BANYUWANGITIMES – Menyambut hari kopi sedunia,  Banyuwangi Coffee Community, kembali membangkitkan semangat masyarakat Banyuwangi dengan menggelar edukasi kopi kepada masyarakat.

Kegiatan Perayaan Hari Kopi Sedunia diselenggarakan di kaki Gunung Ijen, Rest Area Jambu, Desa Tamansari, Kecamatan Licin Banyuwangi.

Menariknya, setiap warga yang datang  selain bisa menikmati berbagai jenis kopi khas Banyuwangi, juga bisa belajar cara-cara mengolah kopi. Mulai cara memanen kopi yang benar, menyangrai, menyeduh kopi, sampai bagaimana menikmati kopi.

"Banyuwangi itu penghasil kopi robusta terbesar. Tapi kenapa kedai-kedai kopi di Banyuwangi tidak menjual kopi asli," ujar aktivis kopi, Banyuwangi Coffee Community (BCC), Agung Pribadianto kepada Banyuwangi TIMES.

Agung menambahkan, kopi Banyuwangi punya cita rasa khas. Salah satunya, ada balutan rasa rempah yang kuat dan aromanya khas.

Setiap wilayah memiliki rasa dan aroma yang berbeda. Seperti wilayah-wilayah penghasil kopi yang ada di Tamansari Licin, Gombengsari, Kalibendo, Kalibaru, Glenmore, Telmung dan Ijen Raung.

"Kalau rasa, dominan rasa rempah, dan kacang-kacangan. Kalau di sini (Tamansari) banyak pohon cengkeh pasti dominan rasa cengkeh Kalibaru identik kopi lanang. Kalau Glenmore biasanya diekspor di dataran eropa," jelasnya.

Sementara itu, Teguh Siswanto (58) Ketua BCC mengatakan  selama tiga hari acara berlangsung masyarakat yang datang bisa menikmati kopi gratis sekaligus belajar cara mengolah kopi yang benar.

"Kami sengaja mengajak masyarakat untuk saling belajar tentang kopi. Selama tiga hari kopi gratis. Dan dapat edukasi. Yang datang ada mahasiswa dan petani sendiri," ujar Teguh.

Dia menambahkan, yang membuat cita rasa kopi di Desa Tamansari, Kecamatan Licin sangat khas, terbentuk dari tiga hal.

Pertama, kondisi geografisnya mendukung bisa mendapatkan sinar matahari pagi yang mencukupi. Kemudian mendapatkan uap garam dari Selat Bali dan terkena uap belerang Gunung Ijen.

"Beras yang paling enak dari Licin. Durian merah juga sekitaran Licin. Saya yakin kopinya juga istimewa. Tapi kenapa saat ini kalah terkenal sama lainnya. Misal sama gayo, toraja dan lainnya. Ternyata akibat faktor pasca panennya yang salah. Ya kita belajar sama luak lah. Harus petik merah. Kedua sangrai," ujarnya.

Dari situlah, melalui kegiatan Perayaan Hari Kopi Sedunia, Teguh berharap nama kopi Banyuwangi bisa terangkat.

Salah satunya, dengan memberikan edukasi kepada warga Tamansari cara memanen sampai menyeduh kopi yang tepat.

Lewat BCC, Teguh menggandeng pelaku usaha kopi, barista dan penikmat kopi untuk membantu memberi edukasi.

"Mereka banyak ilmu, sedangkan masyarakat Tamansari kurang ilmu. Nah saya coba mempertemukan," jelasnya.(*)

Pewarta : Widie Nurmahmudy
Editor : Heryanto
Publisher : Abi Fadlan
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top