Tulisan Artis Trie Utami untuk JATIMTIMES

Cempluk, Geliat Masyarakat

Trie Utami (tiga dari kanan) dan penggagas Festival Kampung Cempluk Redy Eko Prasetyo (kanan) saat berada di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur.
Trie Utami (tiga dari kanan) dan penggagas Festival Kampung Cempluk Redy Eko Prasetyo (kanan) saat berada di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur.

BANYUWANGITIMES, BALI – Mendengar kata CEMPLUK delapan tahun yang lalu, tak ada yang kenal selain orang-orang yang tinggal di seputaran Malang. Pun, yang tinggal di kota Malang, belum tentu bisa menunjukkan dimana tepatnya letak dan lokasi kampung tersebut.

Dikepung oleh perumahan-perumahan elite, jejeran rumah di sepanjang Jalan Dieng Atas, Dusun Sumberjo Desa Kalisongo Kabupaten Malang ini, rapat berhimpitan satu sama lain. Sebuah tempat tinggal yang baru mendapat jatah listrik di tahun 1990 (disaat kota Malang sudah terang benderang), ternyata dihuni oleh orang-orang yang penuh daya juang dan mampu memperjuangkan hidupnya sendiri.

Belajar dan bergerak, demikianlah yang terjadi di kampung tersebut. Tanpa bantuan siapapun, tanpa uluran tangan pemerintah dan tanpa sokongan petinggi-petinggi daerah setempat, mereka menggeliat membangun keberdayaan. Mereka bangkit dan bergerak, belajar menjadi manusia yang berbudaya dan bergerak selayaknya manusia yang berkebudayaan.

Panggung-panggung dibangun, atas prakarsa masyarakat. Acara-acara digelar, atas prakarsa masyarakat. Karang Taruna bangun dari tidur panjangnya, juga atas prakarsa masyarakat. Gotong-royong dikembalikan, atas prakarsa masyarakat. Dan hadirlah, Festval Kampung CEMPLUK, yang disepakati bersama sebagai Hari Raya Kebudayaan, yang diselenggarakan setiap bulan September.

Selama tujuh tahun berturut-turut, masyarakat berdikari yang ada di kampung tersebut membuktikan sebuah geliat. Tak banyak bicara dan tak sibuk menadahkan tangan, karena mereka tahu dalam proposal tak pernah ada harapan. Akhirnya mereka belajar mandiri dan ternyata membuktikan sebuah karya yang nyata adalah hal yang jauh lebih penting daripada sekedar berwacana dengan teori-teori besar yang penuh dusta.

Mendengar kata CEMPLUK hari ini, berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Kedatangan Drs.H.Mustaqim MS.MM, Wakil Bupati Penajam Paser Utara beserta Bapak Ady Irawan, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Penajam Paser Utara dengan Kepala Bidang Pariwisata Darmawan Isnaini, jauh-jauh dari Kalimantan Timur telah membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan selama tujuh tahun berturut-turut telah menginspirasi orang-orang lain, bahkan terdengar sampai di telinga para pejabat di Pulau Kalimantan.

Dari kiri, Trie Utami, Dewa Budjana, dan penggagas Festival Kampung Cempluk Redy Eko Prasetyo, Didik Nini Towok, saat tampil di Festival Kampung Muarakaman

Kehadiran para pejabat tersebut bukanlah tanpa sebab, itu karena mereka terinspirasi oleh kampung CEMPLUK. Bagaimana sebuah kampung bergeliat dan sepatutnya Pemerintah Daerah dalam hal ini dapat memfasilitasi, mendukung dan mendorong kegiatan masyarakat, karena selayaknya Pemerintah dan masyarakat adalah mitra sejajar dalam tugas dan fungsinya masing-masing. Dengan penuh semangat, tamu-tamu dari Kalimantan ini berkeliling kampung dan menyaksikan secara langsung bagaimana geliat mandiri itu diperjalankan oleh masyarakat.

Mendengar kata CEMPLUK sekarang, identik dengan kampung yang dapat menginspirasi semua orang. Membuka mata hati kita semua, menjadi cermin bagaimana sesungguhnya sebuah tatanan yang sehat dalam sebuah struktur bermasyarakat diberlakukan. Festival kampung CEMPLUK bukan proyek, bukan pula sebuah sensasi dengan tujuan agar dapat kredit pujian dari siapa-siapa. Ini adalah sebuah geliat yang sepatutnya menjadi geliat kita semua. Festival ini adalah cermin, bahwa dengan pikiran yang sehat, sebuah tujuan dalam kebersamaan sesungguhnya dapat diupayakan. Dari masyarakat-oleh masyarakat dan untuk masyarakat. 

Keberdayaan ada di sana. Dan itulah budaya Nusantara. 

 

Bali, 21 September 2016
Salam kampung, Salam Budaya

TRIE iie UTAMI

Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Angga .
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top