Nikmatnya Kopi Utek-utek Khas Banyuwangi

Kopi Utek-utek khas Banyuwangi (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)
Kopi Utek-utek khas Banyuwangi (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)

BANYUWANGITIMES – Selalu ada yang unik saat menikmati kopi. Apalagi bagi warga Kecamatan Licin Banyuwangi.

Kopi yang sudah diseduh di dalam cangkir atau gelas, memang sengaja tidak diberi gula. Karena setelah diminum, cukup menggigit gula aren yang biasa disebut utek-utek.

Cara ini, rupanya sudah dilakukan warga Kecamatan Licin secara turun temurun. Terutama di beberapa desa yang menjadi sentra produksi gula aren. Seperti di Desa Banjar, Segobang dan Jelun.

Nah, bagi Anda yang penasaran ingin menikmati Kopi Utek-Utek, bisa berkujung ke Cafe Kedung Lumpang yang terletak di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah. Tepat di jalur menuju wisata Gunung Ijen, berbatasan dengan Desa Banjar Kecamatan Licin.

Manager Cafe Kedung Lumpang,  Budiono (34) warga Desa Jelun Kecamatan Licin ini menjelaskan memang sengaja memasang menu kopi utek-utek di cafe-nya untuk melestarikan budaya minum kopi yang unik di daerahnya.

"Kopi utek itu khas Kecamatan Licin. Dari orang tua dan Kakek saya dulu sudah buat kopi utek. Gulanya sebesar jempol, terus dibungkus daun aren," ujar Budi kepada BanyuwangiTIMES.

Dia melanjutkan, cara menikmati kopi utek-utek memang khas. Warga Licin biasanya akan menikmati kopi utek-utek di pagi hari, sebelum berangkat kerja ke sawah. 

Selain itu, kata Budi, ada kuliner pasangannya saat menikmati kopi utek-utek, yakni singkong yang dibakar.

"Kakek saya dulu kan juga bikin gula aren. Jadi kopi diminum terus gulanya digigit. Pasangannya sawi (singkong) yang dibakar," tuturnya.

Soal rasa, kopi utek-utek ini memang khas. Rasa pahit atau asam dari kopi jenis robusta dan arabica, bisa menghadirkan varian rasa tersendiri saat mengigit gula aren.

Cukup dengan harga Rp. 6 ribu Anda sudah bisa menikmati kopi utek-utek di Cafe Kedung Lumpang dengan latar pemandangan alam dan suara gemercik air dari sungai. 

Selain di Cafe Kedung Lumpang, pengunjung yang sedang berwisata ke Gunung Ijen mampir untuk menikmatinya di beberapa desa, Kecamatan Licin. Seperti di Desa Banjar yang sudah menjadi lokasi wisata alam dan budaya.

"Soalnya kopi utek-utek ini masih jarang ada yang jual," pungkas Budi.(*)

Pewarta : Widie Nurmahmudy
Editor : Heryanto
Publisher : Adek Alfian Jaya
Sumber : Banyuwangi TIMES
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top