Ada Sejarah Perjuangan di Balik Gurihnya Sego Lemeng

Salah seorah warga tengah memasak sego lemeng (Widie Nurmahmudy/ BanyuwangiTIMES)
Salah seorah warga tengah memasak sego lemeng (Widie Nurmahmudy/ BanyuwangiTIMES)

BANYUWANGITIMESNikmatnya sego lemeng Desa Banjar rupanya mempunyai sejarah panjang hingga dijadikan festival 4444 sego lemeng.

Selain untuk pengembangan wisata dan peningkatan ekonomi kerakyatan, gurihnya sego lemeng juga menyimpan kisah heroik di masa penjajahan Belanda, khususnya bagi warga Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Pada masa penjajahan, masyarakat Banyuwangi atau dikenal juga Blambangan sedang melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda, nasi lemeng ternyata menjadi kuliner untuk para gerilyawan.

Dari cerita yang berkembang secara turun temurun ini dikisahkan oleh Nurhariri, Kepala Desa Banjar kepada Banyuwangi TIMES.

"Ceritanya memang, rakyat sini dulu berjuang agar merdeka. Saat berjuang melawan Belanda, lari ke hutan, nah di sana bikin nasi lemeng untuk bertahan hidup," ujar Nur Hariri.
Masih belum jelas, periodesasi yang disebutkan Nurhariri. Bisa saat perang Puputan Bayu, melawan dominasi VOC pada tahun 1771. Bisa juga saat agresi militer Belanda I, II pada tahun 1947 sampai 1949-an. 

Tapi yang jelas, Desa Banjar masih menyimpan potret kebiasaan mengonsumsi kuliner gerilya ini. "Sekarang sego lemeng biasa dibuat bekal warga Banjar yang bekerja di hutan ataupun dibawa ke sawah," tambahnya.

Yuliati salah satu warga Desa Banjar yang masih mewarisi cara memasak sego lemeng mengatakan, cara memasak kuliner ini sangat sederhana. 
Pertama nasi yang sudah ditanak dengan campuran santan dan bumbu rempah dikemas dengan daun pisang menyerupai lontong. Di dalamnya masih diberi tambahan irisan ikan ayam, tempe atau ikan laut.
"Terus dimasukkan ke bambu dan di bakar," ujarnya di tengah acara Fetival Sego Lemeng. 

Bambu yang digunakan, tambah Yuliati, terlihat masih basah atau berwarna hijau sehingga bisa bertahan cukup lama untuk memasak sego lemeng. Setelah permukaan bambu mulai menghitam, satu per satu dari bambu tersebut diangkat untuk dibelah. Menandakan sego lemeng sudah siap dikonsumsi.

Dia mengatakan, keunggulan sego lemeng ini memang bisa bertahan sampai tiga hari. Sehingga cocok untuk warga yang mau mendaki gunung. Apalagi bisa dimasukkan ke dalam saku, sehingga mudah membawanya.
"Sego lemeng bisa gak basi sampai tiga hari. Lemeng itu artinya biar perut menjadi tenang kenyang, biar talep. Biar lemang," tuturnya. (*)

Pewarta : Widie Nurmahmudy
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abi Fadlan
Sumber : Banyuwangi TIMES
Redaksi: redaksi[at]banyuwangitimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]banyuwangitimes.com | marketing[at]banyuwangitimes.com
Top